Friday, October 15, 2021

TINGKATAN BERPIKIR DAN KATA KERJA OPERASIONAL (KKO)


Klasifikasi Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Klasifikasi Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom
Klasifikasi Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Klasifikasi tingkatan berpikir telah banyak dibahas para ahli. Klasifikasi atau taksonomi yang paling dikenal dalam dunia pendidikan ialah Taksonomi Bloom. Taksonomi tersebut dikemukakan pertama kali oleh Benyamin Bloom pada tahun 1956. Empat puluh tahun kemudian, Taksonomi Bloom mengalami beberapa penyesuaian oleh para ahli pendidikan, diantaranya adalah Lorin Anderson dan David Krathwol. Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses berpikir, yaitu:

  • mengingat (remembering)
  • memahami (understanding)
  • menerapkan (applying)
  • menganalisis (analyzing)
  • mengevaluasi (evaluating)
  • mengkreasi (creating)

Jenis dan Sub Jenis Dimensi Pengetahuan 

dimensi pengetahuan dan proses kognitif

A. Pengetahuan Faktual 

Pengetahuan Faktual adalah unsur-unsur dasar yang harus diketahui oleh siswa untuk berkenalan dengan suatu disiplin ilmu atau menyelesaikan masalah di dalamnya. 
Pengetahuan Faktual meliputi:
  • Pengetahuan tentang istilah
  • Pengetahuan tentang detail  suatu hal dan unsur-unsur 

Contoh Pengetahuan Faktual:

  • Kosakata teknis, simbol musik
  • Sumber daya alam utama, sumber informasi yang dapat dipercaya 

B. Pengetahuan Konseptual

Pengetahuan Konseptual adalah pengetahuan yang berkenaan dengan hubungan antar unsur-unsur dasar dalam suatu susunan yang besar secara fungsional.
Pengetahuan Konseptual meliputi:

  • Pengetahuan tentang klasifik  dan kategori
  • Pengetahuan tentang prinsip- prinsip dan generalisasi
  • Pengetahuan tentang teori,  model, dan struktur 

Contoh Pengetahuan Konseptual:

  • Periode waktu geologi
  • bentuk-bentuk kepemilikan bisnis
  • teorema Phytagoras
  • teori evolusi
  • hukum Newton


C. Pengetahuan Prosedural 

Pengetahuan Prosedural berkaitan dengan bagaimana melakukan sesuatu, metode-metode dalam inkuiri, dan kriteria untuk menggunakan skill, algoritma, teknik, dan metode.
Pengetahuan Prosedural meliputi:

  • Pengetahuan tentang keahlian-keahlian khusus dan algoritma
  • Pengetahuan tentang teknik dan  metode khusus suatu bidang   
  • Pengetahuan tentang kriteria  untuk penentuan ketika menggunakan prosedur yang sesuai 

Contoh Pengetahuan Prosedural:

  • Keahlian untuk melukis dengan cat air
  • Kriteria yang digunakan untuk penentuan ketika menerapkan prosedur yang melibatkan Hukum-hukum Newton.

D. Pengetahuan Metakognitif

Pengetahuan Metakognitif adalah pengetahuan kognitif  secara umum sebagaimana kesadaran dan pengetahuan yang dimiliki seseorang.
Pengetahuan Metakognitif meliputi:

  • Pengetahuan strategi
  • Pengetahuan tentang tugas-tugas  kognitif, termasuk pengetahuan  kontekstual dan kondisional yang  sesuai 

Contoh Pengetahuan Metakognitif:

  • Pengetahuan  membuat garis besar
  • Pengetahuan tentang tipe tes yang biasa digunakan oleh guru
  • Pengetahuan tentang tuntutan kognitif dari tugas-tugas yang berbeda 

Kata Kerja Operasional dalam Taksonomi Bloom

C1- Pengetahuan

Mengutip
Menyebutkan
Menjelaskan
Menggambar
Membilang
Mengidentifikasi
Mendaftar
Menunjukkan
Memberi label
Memberi indeks
Memasangkan
Menamai
Menandai
Membaca
Menyadari
Menghafal
Meniru
Mencatat
Mengulang
Mereproduksi
Meninjau
Memilih
Menyatakan
Mempelajari
Mentabulasi
Memberi kode
Menelusuri
Menulis

C2-Pemahaman

Memperkirakan
Menjelaskan
Mengkategorikan
Mencirikan
Merinci
Mengasosiasikan
Membandingkan
Menghitung
Mengkontraskan
Mengubah
Mempertahankan
Menguraikan
Menjalin
Membedakan
Mendiskusikan
Menggali
Mencontohkan
Menerangkan
Mengemukakan
Mempolakan
Memperluas
Menyimpulkan
Meramalkan
Merangkum
Menjabarkan

C3 – Aplikasi

memerlukan
menyesuaikan
mengalokasikan
mengurutkan
menerapkan
menentukan
menugaskan
memperoleh
mencegah
mencanangkan
mengkalkulasi
menangkap
memodifikasi
mengklasifikasikan
melengkapi
menghitung
membangun
membiasakan
mendemonstrasikan
menurunkan
menentukan
menemukan
menggambarkan
menemukan kembali
menggunakan
melatih
menggali
membuka
mengemukakan
membuat faktor
membuat gambar
membuat grafik
menangani
mengilustrasikan
mengadaptasi
menyelidiki
memanipulasi
mempercantik
mengoperasikan
mempersoalkan

C4 – Analisis

menganalisis
Mengaudit/ memeriksa
membuat blueprint
membuat garis besar
memecahkan
Mengkarakteristik-kan
membuat dasar pengelompokkan
merasionalkan
menegaskan
membuat dasar pengkontras
mengkorelasikan
mendeteksi
mendiagnosis
mendiagramkan
mendiversifikasi
menyeleksi
memerinci ke bagian-bagian
menominasikan
Mendokumentasi-kan
menjamin
menguji
mencerahkan
menjelajah
membagankan
memngumpulkan
membuat kelompok
mengidentifikasi
mengilustrasikan
menyimpulkan
menginterupsi
menemukan
menelaah
menata
mengelola
memaksimalkan
meninimalkan
mengoptimalkan
memerintahkan
menggarisbesarkan
memberi tanda/kode
memprioritaskan
mengedit

C5 – Evaluasi

mempertimbangkan
menilai
membandingkan
menyimpulkan
mengkontraskan
mengarahkan
mengkritik
menimbang
mempertahankan
memutuskan
memisahkan
memprediksi
menilai
memperjelas
merangking
menugaskan
menafsirkan
memberi pertimbangan
membenarkan
mengukur
memproyeksi
memerinci
menggradasi
merentangkan
merekomendasikan
melepaskan
memilih
merangkum
mendukung
mengetes
memvalidasi
membuktikan kembali

C6 – Kreasi

mengabstraksi
menganimasi
mengatur
mengumpulkan
mendanai
mengkategorikan
mengkode
mengkombinasikan
menyusun
mengarang
membangun
menanggulangi
menghubungkan
menciptakan
mengkreasikan
mengkoreksi
memotret
merancang
mengembangkan
merencanakan
mendikte
meningkatkan
memperjelas
memfasilitasi
membentuk
merumuskan
Menggeneralisasi-kan
menumbuhkan
menangani
mengirim
memperbaiki
menggabungkan
memadukan
membatasi
menggabungkan
mengajar
membuat model
mengimprovisasi
membuat jaringan
mengorganisasikan
mensketsa
mereparasi
KKO DALAM TAKSONOMI BLOOM REVISI
Bagan Taksonomi Bloom

Tiga Proses Kognitif Berpikir Tingkat Tinggi

Susan Brookhart mengkategorikan tiga proses kognitif paling atas pada taksonomi Bloom, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi sebagai proses berpikir tingkat tinggi. Susan menjelaskan tiga proses kognitif tersebut sebagai berikut.

1. Menganalisis 
Proses kognitif pada kegiatan menganalisis bersesuaian dengan mengurai informasi ke dalam bagian-bagian dan menentukan atau menjelaskan bagaimana bagian-bagian tersebut terkait. Soal mengukur analisis ketika peserta harus menyimpulkan berdasarkan analisis dari bagian-bagian teks atau stimulus
Contoh soal kategori menganalisis: 
menemukan atau menentukan ide-ide pokok, argumen, asumsi dari suatu teks yang tidak disampaikan secara eksplisit; menentukan atau menyusun bukti yang mendukung dan tidak mendukung untuk suatu deskripsi kasus; menentukan pandangan penulis esai dari sudut pandang tertentu

2. Mengevaluasi 
Kegiatan mengevaluasi sesuai dengan tujuan; membuat pertimbangan/ judgement berdasarkan standar atau kriteria.
Contoh soal mengevaluasi: 
menentukan metode yang memberikan solusi yang paling tepat untuk masalah yang disajikan; menentukan ketepatan kesimpulan peneliti berdasar data yang disajikan.

3. Mengkreasi 
Kegiatan dalam mengkreasi adalah menyatukan unsur-unsur untuk membentuk suatu kesatuan; menata ulang unsur-unsur untuk membentuk pola atau stuktur yang baru.
Contoh kegiatan mengkreasi:
merencanakan karya tulis ilmiah berdasarkan topik yang diberikan; menyusun desain eksperimen; menyusun hipotesis untuk menerangkan fenomena yang tampak; menyusun akhir cerita

Untuk kepentingan penilaian tingkat nasiona Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) mengkategorikan proses berpikir menjadi 3 level kognitif, yakni :
1. Level 1: Pengetahuan dan Pemahaman
mengukur kemampuan untuk mengingat dan memahami pengetahuan yang telah dipelajari.
2. Level 2: Aplikasi
mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks atau situasi yang familier atau rutin.
3. Level 3: Penalaran
mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang tidak hanya sekedar mengingat dan memahami. Proses berpikir yang termasuk dalam level ini seperti menganalisis, mengevaluasi, mengkreasi, berpikir logis, berpikir kritis, berpikir kreatif, menyelesaikan masalah pada konteks baru atau non rutin.

Pemerintah mengharapkan para peserta didik mencapai berbagai kompetensi dengan penerapan HOTS atau Keterampilan Bepikir Tingkat Tinggi. Kompetensi tersebut yaitu berpikir kritis (criticial thinking), kreatif dan inovasi (creative and innovative), kemampuan berkomunikasi (communication skill), kemampuan bekerja sama (collaboration), dan kepercayaan diri (confidence).

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Banyak hal yang perlu kita gali dan diterapkan dalam proses belajar dan mengajar pada saat ini.

Maju terus pendidikan Indonesia.


Tuesday, August 3, 2021

Full Daring, Efektif kah?

Sebagai salah satu upaya mencegah pandemi Covid-19, pemerintah mengeluarkan kebijakan agar setiap sekolah meminta peserta didiknya untuk belajar di rumah. Lantas, bagaimanakah efektivitas pembelajaran daring ini?

Sistem pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung ataupun tidak langsung antara guru dan peserta didik, tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet.

Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun peserta didik berada di rumah. Maka, solusinya guru dituntut dapat mendesain media pembelajaran sebagai inovasi dengan memanfaatkan media daring (online).

Hal ini sesuai dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19)

Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui perangkat personal computer (PC)/laptop atau Telepon Genggam (HP) yang terhubung dengan koneksi jaringan internet. Guru dapat melakukan pembelajaran bersama di waktu yang sama menggunakan grup di media sosial, seperti Whatsapp (WA), Google Classroom,  dan google meet  seperti yang  dilakukan pada pembelajaran di SMPN 7 Cibeber.

Semua sektor merasakan dampak Covid-19, dunia pendidikan salah satunya. Dilihat dari data yang diperoleh pada bulan Juli 2021 yakni bulan pertama tahun ajaran 2021/2022.

Sumber: Pusat Data Informasi SMPN 7 Cibeber


Sumber: Pusat Data Informasi SMPN 7 Cibeber

Dilihat dari data tersebut sekitar 64,21% peserta didik aktif mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) Daring, sisanya tidak aktif (35,79%). Dari data tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwa pembelajaran jarak jauh tidak begitu optimal. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya:

  • Peserta didik maupun orangtua peserta didik yang tidak memiliki handphone untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring ini merasa kebingungan;
  • Ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi peserta didik;
  • Pembelajaran daring tidak bisa lepas dari jaringan internet. Koneksi jaringan internet menjadi salah satu kendala yang dihadapi peserta didik yang tempat tinggalnya sulit untuk mengakses internet;
  • Ketidaksiapan guru dan peserta didik terhadap pembelajaran daring juga menjadi masalah. Perpindahan sistem belajar konvensional ke sistem daring, tanpa persiapan yang matang;
  • Materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa dipahami semua siswa, sistem ini hanya efektif untuk memberi penugasan, dan kemungkinan hasil pengerjaan tugas-tugas ini diberikan ketika peserta didik akan masuk;
  • Peserta didik merasa jenuh dengan pembelajaran jarak jauh terutama kelas VIII dan kelas IX.

Dari masalah di atas banyak harapan yang diinginkan oleh guru dan peserta didik dalam kondisi seperti ini:
  • Semoga wabah covid-19 cepat berakhir, setelah kondisi kembali normal atau pun wabah Covid-19 sudah berakhir, harapan guru dan peserta didik pembelajaran di kelas (tatap muka) bisa dilaksanakan kembali;.
  • Adanya perlakuan khusus bagi siswa yang kesulitan dalam melakukan pembelajaran jarak jauh (daring);
  • Model pembelajaran daring ini baik digunakan tetapi perlu ditambahkan dengan model pembelajaran luar jaringan (luring). Hal ini dikarenakan jika hanya pembelajaran daring saja maka kejujuran dan kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas kurang terkontrol;
  • kedepannya ada model daring yang lebih baik lagi untuk menunjang pembelajaran agar lebih efektif dan efisien yang mampu diterima oleh siswa secara baik.
Mari kita sama-sama berdo'a sehingga wabah ini cepat berakhir dan pembelajaran secara normal dapat kita laksankan kembali, sehingga anak didik kita bisa measakan kembali pelayanan yang optimal dari gurunya. Aamiin Ya Rabb.



Sunday, April 4, 2021

Aplikasi Leger, Rata-rata Raport, Nilai Ujian Sekolah, dan Surat Keterangan (SMP)

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bapak/Ibu guru diseluruh Indonesia salam kenal dari kami, sebentar lagi kita semua akan memulai disibukan dengan pengisian Rapor untuk anak didik kita, maka dari itu tentunya sangat lah banyak menyita waktu untuk itu saya akan berbagi aplikasi dengan bapak/ibu guru di seluruh Nusantara, yaitu aplikasi leger, rata-rata raport, nilai ujian dan Surat Keterangan dalam satu aplikasi saja.


Aplikasi ini dibentuk untuk membantu wali kelas/TU dalam merekap nilai raport, menciptakan raport secara komputerisasi (yang tulis tangan tetap harus dilakukan) dan LEGER pun siap untuk dicetak. Perhitungan rata-rata sanggup dilakukan secara otomatis dan menghemat segalanya. Untuk inilah kami akan memperlihatkan aplikasi sederhana untuk mengolah nilai rapot + leger nilai siswa + Nilai Ujian Sekolah + Surat Keterangan.

Silahkan kalau ingin mencoba aplikasi ini aplikasi excel sederhana tanpa ribet.

Silakan unduh disini

Demikianlah apa yang kami bagikan hari ini supaya bermanfaat.

Wassalam.

Monday, March 15, 2021

Aplikasi Laporan Hasil Penilaian Tengah Semester (PTS)

 Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Rekans, mungkin sekarang ada sebagian yang menyelenggarakan kegiatan PTS (Penilaian Tengah Semester Ganjil). Saya mencoba membuat aplikasi raport PTS ini sesederhana mungkin. Namun saya tahu aplikasi ini masih jauh dari kesempurnaan. Mungkin saya masih harus belajar excel lagi. Banyak fungsi excel yang belum saya kuasai. Mungkin ada saran atau tutorial dari pembaca, saya sangat senang menerimanya.

Untuk Rekans yang membutuhkan silahkan download link di bawah ini

Aplikasi Laporan Penilaian Tengah Semester


Demikian semoga bermanfaat

Wassalam.

Tuesday, March 2, 2021

Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Cibeber Masa Bakti 2021-2022 dengan e-Voting

Siswa atau peserta didik adalah generasi muda yang merupakan tulang punggung bangsa dan negara. Oleh karena itu sebagai generasi penerus bangsa, siswa perlu dibina, dilatih, dan dikembangkan menjadi pribadi-pribadi yang kelak akan meneruskan cita-cita pembangunan Bangsa. Untuk menjadi sumber daya manusia yang handal, siswa tidak cukup hanya dibekali wawasan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi diperlukan juga pembekalan terhadap aspek kompetensi psikomotorik sosial kemasyarakatannya. Salah satu upaya dalam mewujudkan kemampuan sosial kemasyarakatan tersebut adalah dengan melatih kemampuan berorganisasi siswa disekolah yang terbentuk dalam suatu kepengurusan Organisasi Siswa Itra Sekolah (OSIS). 

Dalam rangka menjalankan roda kepengurusan OSIS, diperlukan sebuah mekanisme berorganisasi dalam konteks regenerasi yang diwujudkan dalam pemilihan kepengurusan OSIS sebagai manifestasi "Tongkat Estafet" kepengurusan. Untuk itu pemilihan umum  ketua dan wakil ketua OSIS dilaksanakan setiap tahunnya melalui mekanisme Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa dan (LDKS) dan Musyawarah SISWA (MUSIS) yang bermuara pada proses pemilihan Umum (Pemilu) OSIS.

Pelaksanaan Pemilu OSIS ini diharapkan menjadi wahana berorganisasi siswa sekaligus sebagai Laboratorium Demokrasi sebagai modal kemampuan mereka kelak untuk terjun di masyarakat secara langsung, serta pengharapan yang paling utama adalah guna mempersiapkan mereka untuk menjadi motor penggerak pembangunan dan pengelola bangsa dan negara ini.

Pada periode kepengurusan masa bakti 2021-2022 ini, OSIS SMPN 7 Cibeber menggelar proses pemilihan Umum melalui mekanisme pemilihan langsung secara digital atau e-voting dengan menggunakan media google form sebagai surat suara nya. Hal ini dilakukan berdasarkan situasi dan kondisi masa pandemi saat sekarang yang tidak memungkinkan dilaksanakan secara normal.

e-voting berasal dari kata electronic voting yang mengacu pada penggunaan teknologi informasi pada pelaksanaan pemungutan suara.

Adapun pelaksanaan pemilihan Umum Ketua dan Wakil Ketua OSIS SMPN 7 Cibeber ini digelar dengan mekanisme sbagai berikut :

  1. Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS ditentukan oleh Musyawarah SIswa yang dipimpin oleh Ketua Dewan Perwakilan SISWA
  2. Tim panitia pemilihan dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) OSIS SMPN 7 Cibeber yang sebelumnya di bentuk dalam Musyawarah Siswa (MUSIS)
  3. Tim KPU menentukan dan menetapkan Calon Ketua dan Wakil KetuaOSIS  untuk disertakan dalam gelaran Pemilu OSIS SMPN 7 Cibeber
  4. Daftar pemilih Tetap pemilu OSIS SMPN 7 Cibeber adalah seluruh Siswa SMPN 7 Cibeber dari kelas 7 sampai dengan kelas 9 yang masih aktif belajar di SMPN 7 Cibeber
  5. Surat suara dibuat melalui aplikasi google form
  6. Tautan atau Link Google form dibagikan kepada seluruh siswa melalui WA Group masing-masing Kelas
  7. Tautan atau Link Google form hanya bisa diakses oleh Peserta didik atau Siswa SMPN 7 Cibeber yang masih aktif belajar melalui akun google di HP/SMartphone/Perangkat PC nya masing-masing.
  8. Satu akun hanya bisa mengakses satu kali tanggapan.
  9. Pelaksanaan Pemilu OSIS SMPN 7 Cibeber melalui pemilihan digital (e-Vooting) dimulai pada tanggal 2 Maret sampai dengan 09 Maret 2021
  10. Hasil pemilihan Umum Ketua dan Wakil Ketua OSIS dipublikasikan setelah hari terakhir pemilihan.

Semoga momentum Pemilihan ini bisa dijadikan ajang pembelajaran politik dan berdemokrasi secara sehat bagi peserta didik (siswa) SMPN 7 Cibeber, dan juga sebagai penegasan bahwa politik sebenarnya bukan hal yang tabu untuk dibahas dan dipraktikkan. Pemilihan ketua dan wakil ketua OSIS tahun ini juga sebagai ajang regenerasi dan penyegaran kepemimpinan di OSIS SMPN 7 Cibeber. Semoga kandidat yang terpilih adalah orang yang amanah dan berintegritas yang nantinya dapat memberikan terobosan-terobosan cemerlang untuk kebaikan sekolah.

Wednesday, February 24, 2021

Bangun Ruang Sisi Datar Bagian -1

Peta Konsep


Apa itu bangun ruang sisi datar?

Kelompok bangun ruang sisi datar adalah bangun ruang yang sisinya berbentuk datar (tidak lengkung). Coba soba amati dinding sebuah gedung dengan permukaan sebuah bola. Dinding gedung adalah contoh sisi datar dan permukaan sebuah bola adalah contoh sisi lengkung. Jika sebuah bangun ruang memiliki satu saja sisi lengkung maka ia tidak dapat dikelompokkan menjadi bangun ruang sisi datar. Sebuah bangun ruang sebanyak apapun sisinya jika semuanya berbentuk datar maka ia disebut dengan bangun ruang sisi datar.

Untuk lebih jelasnya silahkan pelajari materi berikut:

SMPN 7 Cibeber oleh Zulfian Yusmana


Sumber Materi dan Media: 
  1. Pembelajaran Berbasis Aktivitas "Sebuah Alternatif PJJ" Kelas 8 Unit 1, Dirjen GTK Kementerian dan Kebudayaan Tahun 2020.
  2. Aplikasi Canva

Monday, February 22, 2021

Penggunaan Google Classroom Satu Server Dalam Pembelajaran Masa Pandemi Covid-19 DI SMPN 7 Cibeber

 Oleh : Zulfian Yusmana, M.Pd


A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan kunci pembangunan sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia merupakan kunci terwujudnya Indonesia Emas 2045, yang adil dan sejahtera, aman dan damai, serta maju dan mendunia. Tetapi, Dalam kondisi darurat, kegiatan pembelajaran tidak bisa berjalan secara normal seperti biasanya, namun demikian peserta didik harus tetap mendapatkan layanan pendidikan dan pembelajaran.

Letak geografis SMP Negeri 7 Cibeber Kabupaten Lebak merupakan sekolah di kawasan pegunungan tepatnya di daerah kawasan Cisitu. Karena keberadaannya berada di daerah pegunungan tersebut, wilayah Cisitu menjadi wilayah yang sulit untuk di jangkau serta wilayah yang rawan bencana, sehingga pendidikan agak kurang tersentuh. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh positif pun banyak didapatkan dari wilayah seperti ini keberadaan masyarakatnya yang memegang tradisi karena termasuk daerah kesepuhan, sehingga mempunyai potensi daerah kearifan lokal yang memungkinkan untuk dikembangkan.

Pada masa darurat Covid-19, sekolah telah melaksanakan kegiatan pembelajaran di tengah kondisi darurat sesuai dengan kondisi dan kreatifitas masing-masing sekolah dimana peserta didik belajar dari rumah dengan bimbingan dari guru dan orang tua. Begitu juga di SMPN 7 Cibeber dengan model daring (dalam jaringan) yang digunakan bisa berjalan dengan baik walaupun dengan keterbatasan sinyal.

Menghadapi kondisi seperti ini, tentunya sekolah membutuhkan media yang cocok dalam melaksanakan proses pembelajaran. Sehingga pada akhirnya guru dan peserta didik tidak kebingungan dalam memilih menggunaan media pembelajaran yang banyak ditawarkan dalam kodisi pandemi saat ini. 


B. Google Classroom Satu Server

Dalam memecahakan masalah di atas, maka harus memilih media pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran masa pandemi saat ini. Untuk itu, SMPN 7 Cibeber memilih media pembelajaran pokok yang digunakan dalam semua pembelajaran yang digunakan oleh Guru. Pemilihan media pokok  ini dimaksudkan agar peserta didik tidak kebingungan dalam melaksanakan pembelajaran, ini diakibatkan karena terlalu banyak aplikasi media pembelajaran online yang ditawarkan pada saat ini.  

Sehingga, pemilihan media pembelajaran yang digunakan oleh SMPN 7 Cibeber adalah Google Classroom. Google Classroom (Ruang Kelas Google) adalah suatu serambi aplikasi pembelajaran campuran secara online yang dapat digunakan secara gratis. 

Tujuan utama Google Classroom adalah untuk merampingan proses berbagi file antara guru dan siswa Google Classroom menggabungkan Google Drive untuk pembuatan dan distribusi penugasan, Google Docs, Sheets, Slides untuk penulisan, Gmail dan Google Meet untuk komunikasi, dan Google Calendar untuk penjadwalan. Siswa dapat diundang untuk bergabung dengan kelas melalui kode pribadi, atau secara otomatis diimpor dari Grup Whats App.

Untuk memudahkan memonitor kegiatan pembelajaran secara daring, maka kelas yang dibuat dengan menggunakan satu akun dimana akun tersebut merupakan server utama. 


Guru bisa bergabung dengan kelas yang telah dibuat dan membagikan kode kelas tersebut atau mengundang para siswanya. Setiap kelas (Mata Pelajaran) terdiri dari Guru (Wakasek Kurikulum dan Guru Mapel) dan Siswa Kelas.



Keunggulan penggunaan Google Classroom satu server diantaranya:
- keaktifan guru dan siswa dalam pemebelajaran daring mudah termonitor;
- Selain semua file masuk ke Google Drive pengajar, juga masuk pada Google Drive Akun server;
- Mudah mengelola tugas yang diberikan  oleh guru dan pengumuman penting dari sekolah;
- Mudah meninjau tugas-tugas;
- Mudah dalam berkolaborasi dalam mengerjakan tugas-tugas;
- Waktu Pengiriman tugas dan pengumuman bisa diatur;
- Gratis 100% tanpa iklan.
- Semua file tugas masuk ke google drive, tanpa takut penuh jika menggunakan Akun Pembelajaran (belajar.id)
- dan, banyak lagi keungulan-keunggulan dari GC yang mungkin tidak tersampaikan oleh penulis.


D. Penutup
Terlepas dari itu penggunaan Google Classroom satu server dengan pembelajaran secara online mengakibatkan kesenjangan. Sebab masih menjadi momok di masyarakat diantara yang dapat terlihat nyata adalah pemanfaatan internet tidak merata di seluruh wilayah Indonesia khususnya kabupaten Lebak artinya terdapat Kesenjangan akses on-line pada beberapa wilayah. sistem pembelajaran daring tidak dapat dilakukan secara maksimal. Profil peserta didik dalam pembelajaran daring harus memiliki motivasi belajar mandiri yang tinggi dan memenuhi komitmen belajar yang sungguh-sungguh.
Karakter peserta E-Learning mengarah pada kegemaran belajar dan melakukan kajian pengembangan diri.Kondisi peserta E-Learning adalah mereka yang membutuhkan materi pelajaran tanpa meniingalkan rumah

Ekspektasi dengan pembelajaran daring memang untuk memberikan kemasan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional. Mode seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian dilakukan secara daring tanpa harus tatap muka antara pengajar dan peserta didik. Namun konsep pembelajaran menuju pendidikan secara komperehensif masih dipertanyakan sebagian masyarakat yaitu dari sisi afektif dan psikomotorik. Secara harfiah syarat personal pengajar adalah harus dapat berinteraksi dengan baik dan lebih personal terhadap peserta didik dengan memperhatikan kemajuan peserta didik, dan membantu persoalan peserta didik yang dihadapi. Sehingga fenomena ini menjadi tugas pendidikan bagaimana mengadaptasi sistem konvensional ke arah pembelajaran daring.

Sebaik-baiknya pembelajaran yang sudah kita konsep pasti ada kekurangannya. Tidak ada gading yang tak retak.

Maju Pendidikan Kita.... Maju Untuk Semua Guru Indonesi...

Wednesday, February 17, 2021

Mengelola Data Di Google Drive (Materi Ke-2)

Materi Ke-2 dalam Workshop Pengembangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). "Mengelola Data Di Google Drive" dengan pemateri Ibu Rosdiana dari SMPN 2 Cibeber.



Pemanfaatan Akun Pembelajaran Belajar.id (Materi Ke-1)

Materi 1 dalam kegiatan workshop pengembangan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diselenggarakan oleh PGRI Cabang Kecamatan Cibeber bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.

Materi 1 Tentang Pemanfaatan Akun Pembelajaran Belajar.id selengkapnya :







Pembukaan Workshop Pengembangan Pembelajaran Jarak Jauh - PGRI Cabang Kecamatan Cibeber

Acara Pembukaan Workshop Pengembangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan Pemanfaatan Akun Pembelajran belajar.id yang diselenggarakan oleh PGRI Cabang Kecamatan Cibeber bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lebak.



































Thursday, January 21, 2021

Pengimbasan Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum SMP - Angkatan 2

 

Pengimbasan Bimtek Guru Belajar 

Seri Asesmen Kompetensi Minimum SMP - Angkatan 2


Oleh : 

Zulfian Yusmana, M.Pd

Guru SMPN 7 Cibeber





  1. Pengertian Asesmen Nasional

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar siswa yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.


  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur kompetensi mendasar literasi membaca dan numerasi siswa. 

  2. Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa

  3. Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah.


B. Tujuan dan Manfaat Asesmen Nasional

Perubahan sistem evaluasi dari Ujian Nasional ke Asesmen Nasional merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh. Asesmen Nasional dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar siswa. 


Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau: (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu). 


Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter siswa. 


Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut. Hal ini diharapkan dapat mendorong sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.


Maka dari itu, hasil Asesmen Nasional sendiri diharapkan mampu memberikan manfaat, bukan sekedar nilai belaka. Pada tahun 2021, Mendikbud telah menyatakan bahwa hasil Asesmen Nasional dimaksudkan sebagai peta awal mutu sistem pendidikan secara nasional. Asesmen Nasional tidak akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja sekolah maupun daerah. Berikut infografis yang menjelaskan manfaat asesmen nasional.



Kaitannya dengan infografis tersebut, secara jangka panjang Asesmen Nasional memberi kesempatan sekaligus menuntut guru dan sekolah untuk memperbaiki kualitas pengajarannya guna menciptakan siswa yang lebih kompeten. Hal ini terlihat dari penekanan pembelajaran dan asesmen yang lebih fokus pada daya nalar dalam bentuk literasi membaca dan numerasi. Hal ini juga mendorong guru dan sekolah mengubah praktik-praktik pembelajaran lama yang tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini. 


Bagaimana contohnya? Misalnya, guru ingin mengembangkan keterampilan literasi pada siswa. Dalam hal ini, guru perlu memotivasi siswa untuk membaca tidak hanya dari buku teks, tetapi bisa dari berbagai sumber. Guru juga perlu mengajak siswa berdiskusi dan mengevaluasi informasi yang dibaca, tidak sekedar meringkas dan mengulang kembali. Bagaimana dengan keterampilan numerasi? Pada keterampilan numerasi, guru perlu memastikan siswa memiliki intuisi angka (number sense) dan pemahaman aritmatika dasar sejak dini. Guru juga perlu memandu siswa memecahkan masalah terkait numerasi yang terjadi dalam konteks kehidupannya. Hal ini disebabkan masalah yang menuntut diskusi dan penalaran tidak dapat dipecahkan hanya dengan menghafal rumus semata.


C. Perbandingan AN dan UN

Berikut penjelasan setiap poin pembeda AN dan UN:

Tujuan penyelenggaraan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional tidak sama. Seperti yang telah dijelaskan pada topik dan aktivitas sebelumnya, Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi mutu sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan Ujian Nasional bertujuan untuk mengevaluasi capaian hasil belajar siswa secara individu. 


AN diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menengah atas. Ini termasuk MI, MTS dan MAN, serta program kesetaraan. Sementara UN berlaku mulai jenjang pendidikan menengah pertama dan atas saja.


Asesmen Nasional tidak diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan sebagaimana Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang pendidikan. Yaitu pada kelas 5, 8, 11. Hal ini dilakukan untuk mendorong guru dan sekolah melakukan tindak lanjut perbaikan mutu pembelajaran setelah mendapatkan hasil laporan AN. Jadi bukan sekedar untuk mengetahui capaian hasil belajar siswa sebagai salah satu syarat kelulusan.


Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode survei. Metode survei dilakukan dengan mengambil sampel siswa diambil secara acak dari setiap sekolah. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional yang menggunakan metode sensus dimana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya.


Model soal asesmen yang diberikan dalam AN lebih bervariasi bukan sekedar pilihan ganda dan uraian singkat sebagaimana yang diberikan dalam UN.


Salah satu komponen hasil belajar murid yang diukur pada asesmen nasional adalah literasi membaca dan numerasi. Asesmen ini disebut sebagai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) karena mengukur kompetensi mendasar atau minimum yang diperlukan individu untuk dapat hidup secara produktif di masyarakat. Sementara Ujian Nasional berbasis mata pelajaran yang memotret hasil belajar murid pada mata pelajaran tertentu. Hal inilah yang terkadang memberi kesan mata pelajaran yang penting dan kurang penting dalam pendidikan. Dalam hal ini, AKM memotret kompetensi mendasar yang diperlukan untuk sukses pada berbagai mata pelajaran. 


Metode penilaian AN dan UN pun berbeda meskipun keduanya berbasis komputer. AN menggunakan metode penilaian Computerized Multistage Adaptive Testing (MSAT). MSAT ialah metode penilaian yang mengadopsi tes adaptif, dimana setiap siswa dapat melakukan tes sesuai level kompetensinya. .


D. Evaluasi Ujian Nasional

Kebijakan pelaksanaan Asesmen Nasional juga berangkat dari evaluasi yang dilakukan terhadap Ujian Nasional yang telah berlangsung selama ini. Ujian Nasional menjadi lebih berorientasi pada pencapaian hasil belajar individu dan pembelajaran yang berorientasi pada ujian. Sasaran kompetensi yang diharapkan sebagai perbaikan mutu pendidikan sendiri seringkali terabaikan. Selain itu, beberapa poin evaluasi berikut ini juga menjadi pertimbangan untuk menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional dan menetapkan penyelenggaraan Asesmen Nasional. 


Pertama, Butir-butir soal UN hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, sehingga input dan proses pembelajaran kurang dapat tergambarkan dengan baik. Hal ini belum sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kompetensi lain yang relevan dengan Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013. Harapan untuk mengevaluasi keterampilan siswa dalam menerapkan pengetahuan serta konsep melalui berbagai konteks kehidupan, serta menunjukan karakter sebagaimana yang diharapkan dalam profil pelajar pancasila belum lengkap dilakukan melalui UN saja.


Kedua, UN kurang dapat dimanfaatkan guru untuk memperbaiki pembelajaran pada subjek siswa yang sama. Asesmen Nasional dirancang untuk memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan kompetensi, termasuk di dalamnya kemampuan bernalar.


Ketiga, UN kurang optimal sebagai alat untuk mengevaluasi mutu pendidikan secara nasional. Hal ini disebabkan UN diterapkan di akhir jenjang pendidikan lebih sebagai assessment of learning yang mengukur capaian akhir.


Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM. Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir tingkat 2, tingkat 4 dan tingkat 6 program kesetaraan.


Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian siswa? 

Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi siswa sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu siswa menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua siswa perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili populasi siswa di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional.


Mengapa yang menjadi sampel adalah siswa kelas V, VIII dan XI? 

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar siswa yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. Selain itu, Asesmen Nasional juga digunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional. 


Perlu diketahui, selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh semua guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan. Sementara Asesmen Kompetensi Minimum untuk pendidikan kesetaraan berfungsi sebagai ujian kesetaraan. 


Dalam penilaiannya asesmen literasi membaca tidak hanya mengukur topik atau konten tertentu tetapi berbagai konten, berbagai konteks dan pada beberapa tingkat proses kognitif. 


Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks informasi dan teks fiksi. Kemudian, tingkat proses kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Sedangkan konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.


Tingkat kompetensi tersebut dapat dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat kompetensi siswa. Dengan demikian “Teaching at the right level” dapat diterapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan tingkat capaian siswa akan memudahkan siswa menguasai konsep, keterampilan dan konten yang diharapkan pada suatu mata pelajaran.


Laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum yang menunjukan kategori kompetensi dasar sekolah, perlu ditindaklanjuti dengan perubahan strategi pembelajaran. Sejalan dengan tujuan Asesmen Nasional untuk mencapai kompetensi siswa dan peningkatan mutu pendidikan, maka praktik pembelajaran pun sedikit demi demi sedikit perlu berubah dari pembelajaran yang berbasis konten menuju pembelajaran yang berbasis kompetensi. 


Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, misalnya mampu melakukan tugas atau pekerjaan secara efektif. Kompetensi juga mencakup pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal, atau bahkan keterampilan yang jauh lebih besar dan lebih beragam. Misalnya memimpin organisasi.

Pada pembelajaran berbasis kompetensi, siswa diharapkan mampu mendemonstrasikan pengetahuan, penguasaan konsep, dan keterampilan dalam dan sebagai proses pembelajaran. Karakteristik utama dari pembelajaran berbasis kompetensi adalah fokusnya pada tingkat penguasaan. Dalam sistem pembelajaran berbasis kompetensi, siswa melakukan pembelajaran sesuai dengan tahapan penguasaan kompetensinya hingga tuntas sebelum akhirnya mampu melanjutkan pada tahap penguasaan kompetensi berikutnya. Sebagai sebuah proses, pembelajaran berbasis kompetensi ini membutuhkan waktu sehingga sedikit demi sedikit siswa menunjukan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan untuk memecahkan masalah. Termasuk menunjukan karakter yang ingin dicapai. Bukan sekedar menguasai konten materi pembelajaran semata.


Kekuatan pembelajaran berbasis kompetensi terletak pada fleksibilitasnya karena siswa dapat bergerak dengan kecepatan belajar mereka sendiri. Ini mendukung siswa dengan latar belakang pengetahuan yang beragam, tingkat literasi yang berbeda dan bakat terkait lainnya. Tantangan pembelajaran berbasis kompetensi bagi guru antara lain adalah, kemampuan untuk mengidentifikasi tahapan kompetensi dasar siswa termasuk literasi dan numerasi. Namun laporan hasil AKM dapat membantu memetakan tahapan kompetensi siswa. 



Asesmen seringkali dipersepsikan sebagai upaya menentukan nilai murid. Tidak heran apabila banyak dari kita yang berusaha keras melakukan upaya agar nilai murid kita setinggi mungkin. Nilai murid menjadi sasaran kinerja. Padahal peran asesmen yang pertama dan utama bukan lah menentukan nilai murid.


Peran pertama dan utama asesmen harus dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Kerangka yang sering digunakan adalah segitiga belajar yang mengkaitkan antara asesmen, kurikulum dan pembelajaran. Segitiga belajar membantu kita tidak melihat asesmen, kurikulum dan pembelajaran sebagai aspek yang berdiri sendiri. Guru dan pemimpin sekolah dapat melakukan penyelarasan antar 3 aspek yang menentukan pengalaman belajar murid.


Dalam segitiga belajar, maka makna masing-masing segi adalah sebagai berikut:


Kurikulum: Seperangkat kompetensi yang penting dikuasai murid dengan menggunakan cara belajar dan asesmen tertentu. Pengembangan kurikulum, selain mengacu pada tantangan dunia nyata, hendaknya mengacu pada hasil asesmen dan refleksi praktik pembelajaran.


Pembelajaran: Serangkaian aktivitas yang dirancang dan dilakukan di ruang kelas berdasarkan kompetensi awal murid yang diketahui dari hasil asesmen dan untuk mencapai sasaran kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Pembelajaran memadukan informasi dari asesmen dengan informasi dari kurikulum. Keseimbangan antara paduan tersebut yang akan menghasilkan pembelajaran yang optimal.


Asesmen: Proses mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan sejumlah informasi yang terkait pencapaian kondisi murid dan penguasaan suatu kompetensi tertentu. Asesmen diagnosis: asesmen di awal untuk merancang strategi pembelajaran. Asesmen formatif: asesmen sepanjang proses belajar untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian pembelajaran. Asesmen sumatif: asesmen di akhir untuk menentukan level penguasaan kompetensi oleh murid.


Demikian pengimbasan Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum SMP - Angkatan 2.


Sumber Materi : https://gurubelajar-akm.simpkb.id/courses/bimtek-guru-belajar-seri-asesmen-kompetensi-minimum-jenjang-pendidikan-menengah-pertama-2/

Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 3 SD/MI

   Assalamu'alaikum Wr. Wb. 


Modul pembelajaran bagi peserta didik merupakan Modul Belajar untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) kelas 3 yang mana didalamnya terdapat materi bacaan-bacaan dan berbagai aktifitas pembelajaran yang menarik serta terdapat soal-soal yang menunjang keberhasilan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang terdaat pada modul.


Modul Pembelajaran ini, digunakan untuk mempermudah rekan-rekan guru, orang tua serta peserta didik dalam menerima dan mengajarkan ilmu untuk peserta didik, berikut ini saya sudah menyiapkan modul pembelajaran untuk kelas 3 SD yang dapat anda gunakan dalam pembelajaran jarak jauh nanti.

Pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa tetap perlu terselenggara dalam masa adaptasi kegiatan baru. Literasi adalah kecakapan fundamental yang membekali siswa dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan. Kecakapan literasi membangun kecakapan hidup yang meningkatkan ketahanan siswa untuk melalui masa adaptasi kegiatan baru. Ketika pembelajaran tak dapat diselenggarakan secara normal, muatan literasi perlu diintegrasikan dalam kegiatan harian siswa dengan keluarga mereka sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.


Untuk yang membutuhkan silahkan Unduh di sini


Semoga dapat bermanfaat.

Wassalam.


Baca Juga : 

1. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 1 SD/SMP

2. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 2 SD/SMP

3. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 3 SD/SMP

4. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 4 SD/SMP

5. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 5 SD/SMP

6. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 6 SD/SMP

Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 2 SD/MI

  Assalamu'alaikum Wr. Wb. 


Modul pembelajaran bagi peserta didik merupakan Modul Belajar untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) kelas 2 yang mana didalamnya terdapat materi bacaan-bacaan dan berbagai aktifitas pembelajaran yang menarik serta terdapat soal-soal yang menunjang keberhasilan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang terdaat pada modul.


Modul Pembelajaran ini, digunakan untuk mempermudah rekan-rekan guru, orang tua serta peserta didik dalam menerima dan mengajarkan ilmu untuk peserta didik, berikut ini saya sudah menyiapkan modul pembelajaran untuk kelas 2 SD yang dapat anda gunakan dalam pembelajaran jarak jauh nanti.

Pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa tetap perlu terselenggara dalam masa adaptasi kegiatan baru. Literasi adalah kecakapan fundamental yang membekali siswa dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan. Kecakapan literasi membangun kecakapan hidup yang meningkatkan ketahanan siswa untuk melalui masa adaptasi kegiatan baru. Ketika pembelajaran tak dapat diselenggarakan secara normal, muatan literasi perlu diintegrasikan dalam kegiatan harian siswa dengan keluarga mereka sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.


Untuk yang membutuhkan silahkan Unduh di sini


Semoga dapat bermanfaat.

Wassalam.


Baca Juga : 

1. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 1 SD/SMP

2. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 2 SD/SMP

3. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 3 SD/SMP

4. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 4 SD/SMP

5. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 5 SD/SMP

6. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 6 SD/SMP

Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 1 SD/MI

 Assalamu'alaikum Wr. Wb. 


Modul pembelajaran bagi peserta didik merupakan Modul Belajar untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) kelas 1 yang mana didalamnya terdapat materi bacaan-bacaan dan berbagai aktifitas pembelajaran yang menarik serta terdapat soal-soal yang menunjang keberhasilan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang terdaat pada modul.


Modul Pembelajaran ini, digunakan untuk mempermudah rekan-rekan guru, orang tua serta peserta didik dalam menerima dan mengajarkan ilmu untuk peserta didik, berikut ini saya sudah menyiapkan modul pembelajaran untuk kelas 1 SD yang dapat anda gunakan dalam pembelajaran jarak jauh nanti.

Pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa tetap perlu terselenggara dalam masa adaptasi kegiatan baru. Literasi adalah kecakapan fundamental yang membekali siswa dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan. Kecakapan literasi membangun kecakapan hidup yang meningkatkan ketahanan siswa untuk melalui masa adaptasi kegiatan baru. Ketika pembelajaran tak dapat diselenggarakan secara normal, muatan literasi perlu diintegrasikan dalam kegiatan harian siswa dengan keluarga mereka sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.


Untuk yang membutuhkan silahkan Unduh di sini


Semoga dapat bermanfaat.

Wassalam.


Baca Juga : 

1. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 1 SD/SMP

2. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 2 SD/SMP

3. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 3 SD/SMP

4. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 4 SD/SMP

5. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 5 SD/SMP

6. Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 6 SD/SMP

Monday, January 18, 2021

Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 6 SD/MI

   Assalamu'alaikum Wr. Wb. 

Modul pembelajaran bagi peserta didik merupakan Modul Belajar untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) kelas 6 yang mana didalamnya terdapat materi bacaan-bacaan dan berbagai aktifitas pembelajaran yang menarik serta terdapat soal-soal yang menunjang keberhasilan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang terdaat pada modul.


Modul Pembelajaran ini, digunakan untuk mempermudah rekan-rekan guru, orang tua serta peserta didik dalam menerima dan mengajarkan ilmu untuk peserta didik, berikut ini saya sudah menyiapkan modul pembelajaran untuk kelas 6 SD yang dapat anda gunakan dalam pembelajaran jarak jauh nanti.

Pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa tetap perlu terselenggara dalam masa adaptasi kegiatan baru. Literasi adalah kecakapan fundamental yang membekali siswa dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan. Kecakapan literasi membangun kecakapan hidup yang meningkatkan ketahanan siswa untuk melalui masa adaptasi kegiatan baru. Ketika pembelajaran tak dapat diselenggarakan secara normal, muatan literasi perlu diintegrasikan dalam kegiatan harian siswa dengan keluarga mereka sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.

Untuk yang membutuhkan silahkan Unduh di sini

Semoga dapat bermanfaat.
Wassalam.


Modul Pembelajaran Jarak Jauh Untuk Kelas 5 SD/MI

  Assalamu'alaikum Wr. Wb. 

Modul pembelajaran bagi peserta didik merupakan Modul Belajar untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) kelas 5 yang mana didalamnya terdapat materi bacaan-bacaan dan berbagai aktifitas pembelajaran yang menarik serta terdapat soal-soal yang menunjang keberhasilan peserta didik dalam menerima dan memahami materi yang terdaat pada modul.


Modul Pembelajaran ini, digunakan untuk mempermudah rekan-rekan guru, orang tua serta peserta didik dalam menerima dan mengajarkan ilmu untuk peserta didik, berikut ini saya sudah menyiapkan modul pembelajaran untuk kelas 5 SD yang dapat anda gunakan dalam pembelajaran jarak jauh nanti.

Pembelajaran untuk meningkatkan kecakapan literasi siswa tetap perlu terselenggara dalam masa adaptasi kegiatan baru. Literasi adalah kecakapan fundamental yang membekali siswa dengan kemampuan memilih, menganalisis informasi dengan kritis serta menggunakannya untuk mengambil keputusan dalam kehidupan. Kecakapan literasi membangun kecakapan hidup yang meningkatkan ketahanan siswa untuk melalui masa adaptasi kegiatan baru. Ketika pembelajaran tak dapat diselenggarakan secara normal, muatan literasi perlu diintegrasikan dalam kegiatan harian siswa dengan keluarga mereka sehingga menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bermakna.

Untuk yang membutuhkan silahkan Unduh di sini

Semoga dapat bermanfaat.
Wassalam.